COVID-19 telah memperbesar beban tanggung jawab mengurus rumah tangga yang sayangnya sebagian besar ditanggung oleh perempuan. Mulai dari mengurus kebutuhan sehari-hari anggota keluarga, baik muda maupun tua, mengelola layanan kesehatan, mengawasi pendidikan anak-anak yang kini dilakukan secara daring, hingga berusaha untuk tetap berkarier, perempuan mengalami stres dan beban yang berlebihan. Dampak pandemi terhadap perempuan begitu besar sehingga, hampir setiap hari, mereka mungkin tidak punya waktu untuk bersantai atau merawat diri.
Hal ini berdampak pada hubungan dan kesejahteraan mental tidak hanya bagi perempuan tersebut tetapi juga bagi keluarganya. artikel terbaru menunjukkan adanya peningkatan jumlah permohonan cerai yang diajukan di Pengadilan Keluarga dan rata-rata 22 permohonan setiap harinya. artikel dikutip Lawrato menerima 60% dari semua panggilan harian terkait masalah perceraian dan Pengacara mengalami lonjakan 20% dalam kasus perceraian sejak lockdown.
Beberapa alasan yang dikutip oleh para ahli untuk gugatan cerai adalah meningkatnya standar ekspektasi satu sama lain, kurangnya waktu untuk pasangan, dan kurangnya komunikasi antar pasangan. Tentu saja, ketidakadilan ini bukanlah masalah baru, melainkan hanya terjadi selama pandemi COVID-19. Laporan penggunaan waktu NSS 2019 menunjukkan bahwa wanita di India menghabiskan sekitar lima jam sehari untuk pekerjaan rumah tangga yang tidak dibayar yang mana tiga kali lebih banyak waktu dibandingkan pria.
Perawatan rumah tangga tanpa upah merupakan isu penting karena dampaknya terhadap perempuan secara tidak proporsional. Hal ini memperkuat stereotip dan norma gender yang mengharuskan perempuan melakukan tugas-tugas ini, yang sebagian besar dapat dilakukan oleh pihak ketiga. Hal ini melanggengkan ketimpangan patriarki dan kasta serta melanggar hak-hak perempuan.
Saat ini, partisipasi perempuan dalam angkatan kerja formal sedang menurun, dan hal ini mungkin sebagian disebabkan oleh tanggung jawab mereka dalam mengurus rumah tangga. Laporan Kesenjangan Gender 2021 dari Forum Ekonomi Dunia menempatkan India pada peringkat ke-140 dari 156 negara. Laporan tersebut menyatakan, “Salah satu pendorong penurunan ini adalah penurunan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan, yang turun dari 24.8% menjadi 22.3%.” Meskipun demikian, realitas bagaimana COVID-19 memengaruhi peran gender, yang membuat dinamika pembagian tanggung jawab rumah tangga semakin timpang, tidak dapat diabaikan.
Dampak COVID pada Perempuan dan Hubungan Mereka
Daftar Isi
Dampak COVID-19 terhadap kesehatan perempuan, baik fisik maupun mental, dapat berdampak luas, tidak hanya bagi mereka sebagai individu, tetapi juga bagi seluruh keluarga. Bagaimana semua ini memengaruhi posisi perempuan dalam keluarga dan hubungannya dengan pasangannya? Mari kita coba memahami:

1. Hubungan
Jika seseorang menghabiskan rata-rata 5 jam untuk pekerjaan perawatan rumah tangga di luar pekerjaan penuh waktunya, maka hanya ada sedikit waktu yang tersedia untuk bersantai. hubungan yang memuaskan, termasuk kehidupan seksStres dapat menyebabkan seseorang selalu merasa kesal, mudah marah, dan menjauh dari pasangannya, sehingga menciptakan ketegangan dalam hubungan mereka. Dampak pandemi terhadap perempuan dapat meluas hingga ke hubungan mereka yang paling intim.
Bacaan Terkait: Terlalu Banyak Memberi dalam Hubungan? Seberapa Banyak Dirimu yang Harus Diberikan?
2. Kesejahteraan Mental dan Kurangnya Harga Diri
Pengasuh utama (paling sering perempuan di rumah) hanya memiliki sedikit waktu untuk mengurus diri sendiri, kegiatan ekstrakurikuler, pendidikan tinggi, atau hobi. Waktu untuk bersosialisasi pun sangat terbatas, dan seringkali jaringan pertemanan mereka terbatas pada lingkungan anak-anak. Semua ini dapat berdampak serius pada kesehatan mental perempuan.
Seiring waktu, seseorang mungkin merasa terasing dari masyarakat dan juga dari lingkungan profesionalnya karena ia terus-menerus memikirkan tanggung jawab perawatannya. Ia mungkin menolak kesempatan, acara jejaring, dan bahkan promosi karena kurangnya waktu dan energi untuk menjalankan peran profesionalnya secara optimal.
3. Kurangnya Kemandirian Finansial
Dampak signifikan lain dari COVID-19 terhadap ibu pekerja adalah bahwa tanpa bantuan dan dukungan dari pasangan atau anggota keluarga lainnya, mereka mungkin akan kesulitan untuk memulai hidup sehat. keseimbangan kehidupan kerja.
Jika seorang perempuan merasa terlalu sulit untuk menyeimbangkan segalanya, ia mungkin akan berhenti bekerja, tetapi kemudian berhenti mendapatkan gaji bulanan. Seiring waktu, hal ini menyebabkan ketergantungan pada pasangannya dalam hal keuangan, dan dengan demikian membatasi pilihannya, terutama jika ia berada dalam hubungan yang penuh kekerasan.
Cara Mengurangi Dampak Pandemi terhadap Perempuan
Kita tidak boleh lagi menutup mata terhadap bagaimana COVID-19 memengaruhi peran gender, yang membuat persamaan yang sudah timpang menjadi semakin kaku. Fokus sekarang perlu dialihkan untuk memahami bagaimana seseorang dapat menjaga hubungan yang sehat dan rumah tangga yang setara gender. Berikut beberapa cara untuk mengurangi dampak COVID yang luar biasa terhadap perempuan:
1. Jaga Komunikasi Terbuka
Sangat penting dalam hubungan apa pun untuk bersikap transparan, jujur, dan memiliki jalur komunikasi yang terbuka. Belajarlah untuk mengidentifikasi emosi Anda, beserta alasannya, dan mampu mengomunikasikan dengan jelas mengapa Anda merasakan hal tersebut.
Belajarlah untuk menghormati dan menghargai emosi serta perasaan orang lain, dan jangan tersinggung. Berdiam diri dan membiarkannya berlalu tidak akan menyelesaikan masalah. Hal itu hanya akan memperburuk keadaan karena Anda memendam emosi hingga mencapai puncaknya dan meledak.
2. Tetapkan Batasan dan Belajar Bernegosiasi
Dampaknya terhadap kesehatan mental perempuan bukanlah hal yang sepele, dan perempuan sendiri harus mengambil langkah proaktif untuk mengatasinya. Salah satu caranya adalah dengan berdiskusi secara terbuka dan jujur tentang harapan, impian, tujuan, dan aspirasi sejak awal hubungan.
Tetapkan batas pada tugas dan juga belajar bernegosiasi dengan pasangan Anda. Norma sosial budaya dan bias bawah sadar yang memberikan ekspektasi berlebihan pada salah satu pasangan perlu ditantang.
3. Membagi Beban Kerja
Memasak adalah keterampilan hidup, dan tidak ada seorang pun yang terlahir dengan pengetahuan bawaan. Begitu pula dengan membesarkan anak, merawat anggota keluarga yang sakit, dan orang tua yang lanjut usia. Semua orang harus ikut serta.
Anak-anak harus diajarkan keterampilan ini sejak dini, tanpa memandang jenis kelamin. Jika pasangan memiliki pekerjaan yang menuntut, salah satu pilihannya adalah berinvestasi pada layanan pihak ketiga untuk memasak, membersihkan rumah, dan mengasuh anak/lansia. Hal ini dapat sangat membantu mengurangi dampak COVID-19 yang membebani para ibu yang bekerja.
4. Membiayai Pekerjaan Perawatan Rumah Tangga
Harus ada biaya yang ditetapkan untuk pekerjaan perawatan rumah tangga, dan jika waktu salah satu pasangan didedikasikan sepenuhnya untuk itu, maka pengakuan yang semestinya harus diberikan, dan uang disisihkan sebagai kompensasi. Selain itu, waktu istirahat juga harus diperhitungkan agar orang tersebut mendapatkan waktu istirahat. Pekerjaan perawatan bisa melelahkan, dan pengasuh utama juga membutuhkan ruang bernapas.
Bacaan Terkait: Disatukan oleh pernikahan…dipisahkan oleh peran dan tanggung jawab gender?
5. Model Kesetaraan Gender di Rumah
Merupakan praktik yang baik bagi kedua orang tua untuk berbagi tugas mengasuh, saling menghormati, dan menjadi teladan bagi anak-anak mereka. Sebagai langkah awal, cuti ayah sebaiknya diambil jika memungkinkan.
Penting untuk berinvestasi dalam hubungan dan menciptakan budaya di rumah di mana setiap orang dicintai, dihormati, dan dihargai. Merawat orang lain seharusnya tidak menjadi beban, melainkan harus datang dari rasa cinta.
Apa Itu Hubungan yang Dipimpin Perempuan dan Bagaimana Cara Kerjanya
Kontribusi Anda tidak merupakan sumbangan amal donasiIni akan memungkinkan Bonobology untuk terus memberikan Anda informasi baru dan terkini dalam upaya kami membantu siapa pun di dunia untuk mempelajari cara melakukan apa pun.